merupakan salah satu hal yang perlu serta penting untuk dimiliki semua orang. Setiap orang pasti memiliki emosi dalam keseharian, baik itu emosi yang memiliki dampak baik, di mana orang akan merasa senang, bahagia, ataupun emosi yang memiliki dampak buruk seperti amarah yang berlebihan, takut bahkan cemas. Namun jika Anda memiliki kontrol diri yang baik, maka semua jenis emosi yang dialami dapat teratasi.
Emosi yang berada di luar kendali dapat memengaruhi kesehatan secara emosional, juga hubungan secara interpersonal. Terkadang emosi yang berlebihan juga membuat seseorang bertindak di luar kendali, sehingga berdampak pada faktor hubungan serta komunikasi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui cara mengontrol emosi di saat-saat tertentu.
Melansir dari Healthline, cara mengontrol emosi yang baik, dapat membantu Anda melakukan rutinitas setiap hari dengan segala baik. Kemampuan untuk mengalami dan mengekspresikan emosi lebih penting daripada yang mungkin Anda sadari. Setiap orang perlu memahami apa yang perlu dilakukan, apa yang sedang dirasakan, serta dampak yang akan timbul ketika emosi berada di luar kendali.
Emosi adalah salah satu pengalaman psikologis yang dimiliki manusia. Biasanya, emosi adalah ungkapan yang dikaitkan dengan amarah. Namun, emosi memiliki beragam jenis, tak hanya amarah.
Emosi adalah bagian yang bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari. Emosi adalah keadaan psikologis berbasis biologis. Tiap orang pasti memiliki emosi dalam dirinya.
Dalam psikologi, emosi lebih dari sekadar perasaan. Emosi adalah campuran kompleks dari tindakan, ekspresi, dan perubahan internal. Emosi adalah respons terhadap makna yang dibuat dari lingkungan.
Memiliki emosi adalah pengalaman universal. Emosi bisa berupa rasa bahagia, semangat, malu, marah, takut, dan banyak lagi. Berikut pengertian emosi dan jenis-jenisnya.
Emosi adalah keadaan psikologis yang kompleks. Menurut Britannica, emosi adalah pengalaman kompleks dari kesadaran tubuh, sensasi, dan perilaku yang mencerminkan signifikansi personal dari suatu hal, peristiwa, atau keadaan. Emosi lebih dari sekedar perasaan.
Menurut Aristoteles, emosi adalah semua perasaan yang begitu mengubah manusia sehingga memengaruhi penilaian mereka, dan yang juga disertai dengan rasa sakit atau kesenangan.
Emosi adalah keadaan psikologis berbasis biologis yang disebabkan oleh perubahan neurofisiologis. Ini terkait dengan pikiran, perasaan, respons perilaku, dan tingkat kesenangan atau ketidaksenangan. Emosi adalah campuran kompleks dari tindakan, ekspresi, dan perubahan internal pada tubuh yang terjadi sebagai respons terhadap makna yang dibuat dari lingkungan.
Menurut Psychology Today, seseorang akan merasakan emosi ketika sesuatu tentang situasi yang ia hadapi menarik perhatiannya. Artinya, manusia memperhatikan beberapa aspek situasi yang relevan dengannya dan tujuan atau kebutuhannya. Jika tidak ada yang terjadi yang penting bagi orang itu, ia tidak akan memiliki perasaan yang kuat.
Menurut buku "Discovering Psychology" oleh Don Hockenbury dan Sandra E. Hockenbury, emosi adalah kondisi yang melibatkan tiga komponen berbeda: pengalaman subjektif, respons fisiologis, dan respons perilaku atau ekspresif. Ketiganya adalah elemen kunci emosi.
Pengalaman Subyektif
Pengalaman emosi bisa sangat subjektif. Meskipun manusia memiliki label yang luas untuk emosi seperti "marah", "sedih", atau "bahagia", pengalaman sendiri tentang emosi ini mungkin jauh lebih multidimensi, oleh karena itu ia bersifat subjektif.
Kemarahan misalnya, Apakah semua kemarahan itu sama? Pengalaman seseorang tentang kemarahan sendiri mungkin berkisar dari gangguan ringan hingga kemarahan yang membutakan.
Elemen kunci emosi
- Respons Fisiologis
Emosi juga menyebabkan reaksi fisiologis yang kuat. Misalnya ketika jantung berdebar ketika ketakutan. Banyak respons fisiologis yang dialami selama emosi, diatur oleh sistem saraf simpatik, cabang dari sistem saraf otonom.
Sistem saraf otonom mengontrol respons tubuh yang tidak disengaja, seperti aliran darah dan pencernaan. Sistem saraf simpatik bertugas mengendalikan reaksi tubuh melawan atau lari. Saat menghadapi ancaman, respons ini secara otomatis mempersiapkan tubuh untuk melarikan diri dari bahaya atau menghadapi ancaman secara langsung.
- Respons Perilaku
Respons perilaku adalah ekspresi emosi sebenarnya. Penelitian menunjukkan bahwa banyak ekspresi bersifat universal, seperti senyum untuk menunjukkan kebahagiaan atau cemberut untuk menunjukkan kesedihan. Norma sosial budaya juga berperan dalam cara mengekspresikan dan menafsirkan emosi.
Melansir Very Well Mind, emosi sering digunakan secara bergantian dengan suasana hati. Namun, ada yang membedakan keduanya. Emosi biasanya berumur pendek, tetapi intens. Emosi juga cenderung memiliki penyebab yang pasti dan dapat diidentifikasi.
Dalam banyak kasus, sulit untuk mengidentifikasi penyebab spesifik dari suatu suasana hati. Misalnya, seseorang mungkin merasa murung selama beberapa hari tanpa alasan yang jelas dan dapat diidentifikasi.
Melansir Britannica, emosi memang merupakan kategori heterogen yang mencakup berbagai fenomena psikologis penting. Beberapa emosi sangat spesifik, sejauh menyangkut orang, objek, atau situasi tertentu.
Lainnya, seperti kesusahan, kegembiraan, atau Depresi, sangat umum. Beberapa emosi sangat singkat dan hampir tidak disadari, seperti rasa malu yang tiba-tiba atau ledakan kemarahan. Lainnya, seperti cinta yang bertahan lama atau kebencian yang membara, berlangsung lama, berjam-jam, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Emosi mungkin memiliki iringan fisik yang diucapkan, seperti ekspresi wajah, atau mungkin tidak terlihat oleh pengamat. Emosi mungkin melibatkan pengalaman dan refleksi sadar, seperti ketika seseorang "berkubang" di dalamnya, atau mungkin berlalu tanpa disadari dan tidak diakui oleh subjek.
Ada rentang emosi yang sangat besar, dan bahkan dalam "keluarga emosi" yang sama ada variasi yang cukup besar. Kepanikan dan ketakutan, misalnya, sering dianggap sebagai emosi yang sama, tetapi ada perbedaan yang signifikan antara kepanikan yang dimanifestasikan dalam ketakutan irasional atau fobia dan ketakutan yang cerdas—seperti ketakutan akan perang nuklir.
Menurut Psychology Today, Profesor Klaus Scherer mengusulkan bahwa ada lima komponen emosi yang berbeda. Ini adalah komponen dari model komponen-proses emosinya. Komponen emosi adalah:
- perasaan (perasaan subjektif, seperti "Saya merasa takut")
- penilaian (pola pikir, seperti "Saya di bawah ancaman")
- ekspresi (ekspresi wajah dan tubuh dari emosi, seperti mata terbelalak ketakutan)
- kecenderungan tindakan (kecenderungan untuk melakukan tindakan tertentu, seperti membekukan atau bersembunyi); dan
- perubahan fisik (gejala fisik emosi, seperti kupu-kupu di perut).
11 Cara Mengontrol Emosi
1. Lihatlah dampak dari emosi
Melansir dari laman healthline, emosi yang intens tidak selalu memiliki konotasi yang buruk. Dengan adanya perasaan seperti marah, bahagia, senang, serta semua emosi yang ada membuat hidup lebih menarik dan bersemangat. Menurut Botnick yang dikutip dari laman Healthline, perasaan kuat yang timbul dari seseorang, menandakan bahwa kita merangkul kehidupan secara seutuhnya, serta tidak menekan reaksi alami. Namun pahami bahwa emosi adalah hal yang normal, serta semua orang juga mengalaminya, akan tetapi perhatikan dampak yang ditimbulkan ketika ada dalam kondisi seperti itu.
Jika seseorang mengalami suasana hati yang tidak baik, seringkali bisa menimbulkan konflik hubungan atu persahabatan, serta kesulitan dalam membangun hubungan dengan orang lain. Luangkan waktu untuk berpikir tentang dampak dari emosi yang timbul, sehingga tidak memengaruhi aktivitas sehari - hari.
2. Dapat mengelola emosi
Cara mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan pengelolaan emosi yang baik. Berusaha untuk mengelola emosi tidak dilakukan dengan membiarkannya berjalan maksimal sepanjang waktu, atau menahan emosi. Ketika Anda mencegah diri untuk mengalami dan mengekspresikan perasaan, maka secara sadar (supresi) atau tidak sadar (represi) berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, biasakan untuk mengelola emosi dengan baik. Ekspresi emosional yang sehat dapat melibatkan serta menemukan keseimbangan antara emosi yang berlebihan dan tidak ada emosi sama sekali.
3. Identifikasi apa yang dirasakan
Cara mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan meluangkan waktu sejenak untuk memeriksa diri, serta suasana hati yang sedang dialami. Dengan rutinitas seperti ini, maka dapat membantu untuk mulai mendapatkan kendali. Salah satu contoh ketika kamu berada dalam situasi yang tidak diinginkan, maka Anda bisa saja memiliki reaksi yang dapat merugikan diri sendiri. Namun pertimbangkan apa yang Anda rasakan serta dampak yang nanti akan timbul jika reaksi yang dikeluarkan melewati batas. Memang membutuhkan waktu sebelum respons ini menjadi kebiasaan.
4. Menerima emosi
Cara mengontrol emosi selanjutnya adalah menerima emosi itu. Saat Anda mengalami hipeventilasi atau napas secara berlebihan setelah menerima kabar baik, atau pingsan di lantai sambil berteriak dan terisak-isak saat tidak menemukan sesuatu yang dicari, mungkin dengan cara mengatakan pada diri sendiri, “Tenang saja,” atau “Ini bukan masalah besar, jadi jangan tidak panik.” dapat membantu untuk mengendalikan emosi serta menerima apa yang telah terjadi.
Dengan menerima emosi, akan sangat membantu untuk merasa lebih nyaman dengannya. Meningkatkan kenyamanan Anda di sekitar emosi yang intens memungkinkan untuk merasakan sepenuhnya tanpa bereaksi dengan cara yang yang tidak membantu sama sekali. Oleh sebab itu, dengan menerima emosi dapat menyebabkan kepuasan hidup yang lebih besar dan gejala kesehatan mental yang lebih sedikit.
5. Buat jurnal suasana hati
Melansir dari sumber yang sama, dengan menulis perasaan yang dirasakan, serta respons yang dipicunya dapat membantu Anda untuk menemukan pola yang mengganggu. Cara mengontrol emosi dengan membuat jurnal, sangat membantu untuk mengenali diri sendiri ketika berada dalam keadaan tertentu, seperti masalah di tempat kerja atau konflik keluarga, berkontribusi pada emosi yang lebih sulit dikendalikan. Penjurnalan juga memberikan manfaat paling besar ketika rutin melakukannya setiap hari.
6. Tarik napas dalam-dalam
Cara mengontrol emosi yang umum dilakukan adalah menarik napas dalam - dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan. Ada banyak hal yang bisa dikatakan untuk kekuatan napas dalam-dalam. Dengan metode ini membantu untuk melihat kilasan emosi pertama yang intens dan reaksi ekstrem apa pun yang ingin Anda hindari.
7. Dapat mengekspresikan diri
Cara mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan mengekspresikan diri saat berada dalam situasi hati yang buruk. Ada waktu dan tempat untuk semua hal, termasuk emosi yang intens. Ketika sedang menangis tak terkendali, hal ini merupakan respons yang cukup umum, ketika kehilangan orang yang dicintai, misalnya. Berteriak ke bantal Anda, bahkan meninjunya, dapat membantu untuk meredakan kemarahan dan ketegangan setelah dicampakkan.
8. Beri ruang
Cara mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan memberi diri ruang untuk berpikir. Menjauhkan diri dari perasaan yang secara intens dihadapi, dapat membantu Anda untuk memastikan cara bereaksi terhadapnya. Dengan memberi jarak mungkin bersifat fisik, seperti meninggalkan situasi yang menjengkelkan, akan tetapi ketika membuat jarak, akan sangat membantu kesehatan mental. Ketika memberi ruang untuk diri, lakukanlah hal yang membuat Anda bahagia, seperti aktivitas menonton ataupun jalan - jalan.
9. Melakukan meditasi
Cara mengontrol emosi selain memberi ruang, cobalah untuk melakukan meditasi. Dengan melakukan metode ioni, membantu mengatasi perasaan ekstrem. Meditasi diketahui mampu meningkatkan kesadaran akan semua perasaan dan pengalaman. Saat Anda bermeditasi, maka secara tidak langsung mengajar diri sendiri untuk duduk dengan perasaan itu, memperhatikannya tanpa menghakimi diri sendiri atau berusaha mengubahnya atau membuatnya pergi.
10. Mengurangi stres
Cara mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan mengurangi tekanan mental yang sedang dihadapi. Ketika ada dalam situasi banyak tekanan sehingga sulit untuk mengelola emosi, maka dengan mengurangi stres, atau menemukan cara yang lebih bermanfaat untuk mengelolanya, dapat membantu emosi Anda menjadi lebih terkendali. Lakukan aktivitas yang membuat Anda lebih rileks, salah satunya dengan menghabiskan waktu untuk rekreasi juga relaksasi.
11. Konsultasi
Cara mengontrol emosi jika tidak bisa dihadapi setelah melakukan berbagai cara, maka berbicaralah dengan terapis. Jika emosi secara intens dan terus terasa berlebihan, mungkin inilah saatnya untuk mencari dukungan profesional. Diregulasi emosional jangka panjang atau persisten bisa juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental tertentu, termasuk gangguan kepribadian ambang dan gangguan bipolar.
Kesulitan mengendalikan emosi juga dapat berhubungan dengan trauma, masalah keluarga, atau masalah mendasar lainnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar